Aku terus mencintaimu dan selalu merindukanmu
Tak terhitung berapa kerat kehangatan candra t’lah ku curi
‘tuk mengantarkanku pada sebuah ekstase
Akankah kau masih mengenalku?
Aku yang ‘kan kau temuni kini anyir lettuce bopeng
Tapi, akan ku bacakan kumpulan aksara yang ‘kan mengingatkanmu
“Jika mencintaimu adalah suatu kesalahan maka ku tak ingin jadi benar”
Ku harap kau ‘kan mengingat
Karena kau yang membawaku menemui Jante,
menyaksikan tumbangnya Atmokarpo ditangan Joko Pandan
dan mendengarkan pembacaan sajak beberapa penyair salon
Beberapa waktu yang telah lewat atau hingga sekarang
Aku meminta izin pada takdir ‘tuk sembunyi di bawah tilam,
dikelilingi jeruji yang kian merapat
Ada banyak sasus diluaran sana
Dan yang kudengar bahwa jeruji ini aroma jebat
Semakin membuat keadaan terpintal mengusut
Mungkin aku salah menerjemahkan rapsodi kala itu
Karena sesungguhnya aku anak seorang perempuan
Yang katanya ia telah merasakan bau garam
Hingga ku benar-banar bersua dengan beku
Yang telah banyak ku kisahkan tanpa tau siapa nama sebenarnya
Ia atau aku mungkin telah lama ingin saling bersua
Ketika jeruji ini semakin mendekap
Beku datang bersama warnanya
Benar-benar bau garam
Biarlah, pada nyatanya hingga aksara ini pun aku masih merindukanmu
Walau ku benamkan selaksa rasa
Ku tetap tertambat di “karet” warna sepi
Dalam kidung tambur ghaib “surat cinta”
Rasa “tirani dan benteng”
Yang ditulis dalam “buku merah dan karbol”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar